Back to Kompasiana
Artikel

Metro

Abah Epoy

Buruh pabrik makanan ringan, tinggal di Bandung, tertarik pada hal-hal bersifat ide kewirausahaan, isu-isu sosial selengkapnya

Preman Saling Bacok, Pak Kombes Kok Cuma Imbau Menyerah…

REP | 13 October 2010 | 13:26 Dibaca: 807   Komentar: 12   0

Luar biasa tidak tahu malu Polisi yang satu ini. Begitu kira-kira yang meruyak di pikiran saya tatkala membaca judul berita di KCM (Kamis, 30/10/2010 pk. 15:50 WIB) berikut: Bentrokan Ampera - Polda: Harap Pelaku Serahkan Diri.
Enak ‘aja, sudah digaji tiap bulan dari uang negara, dengan tugas antara lain melindungi masyarakat, pas ada preman main bacok malah bengong. Giliran sudah muncul sebagai berita di media massa, reaksinya cuma minta agar preman beringas dan buas menyerahkan diri. Memangnya preman pekerja sosial yang mengabdi pada polisi, yang akan sukarela menyerahkan diri?
Berita di KCM yang saya maksud antara lain menyebutkan Kapolda Metro Jaya menegaskan agar para pelaku bentrokan di PN Jaksel (buntut perang antar ”jagoan” pada kasus Blowfish) menyerahkan diri ke polisi untuk mempertanggungjawabkan aksi main bacok di muka umum yang mereka lakukan. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Boy Rafli Amar tsb juga berharap kelompok preman pemuda yang diduga ikut terkait peristiwa bentrok di PN Jaksel dapat meredam isu yg berkembang dengan tidak terprovokasi ajakan untuk melakukan kekerasan baru. “Kalau kekerasan dibalas kekerasan akan terus berlanjut,” kata Boy.
Benar sekali pak Kombes, kekerasan dibalas kekerasan akan terus berlanjut. Namun Polisi bersenjata lengkap (yang notabene dilindungi Undang-Undang) untuk mencegah kejahatan yang terjadi di depan mata justru jauh lebih parah dari itu.
Kendati tidak menyaksikan langsung, dari berita di teve dan koran Saya sampai bergidik ngeri membayangkan kejadian di depan PN Jaksel Jalan Ampera tempo hari itu. Cuma ada di film aksi dan di dunia nyata di Indonesia: Polisi bersenjata lengkap pucat pasi menahan kencing menyaksikan dua kelompok preman saling bacok dan saling tembak di tengah keramaian kota…!!! Berjam jam preman Ambon dan Flores petantang-petenteng menghunus samurai dan pistol di Ibukota disaksikan warga dan Polisi yang ketakutan dan tak berdaya…negara macam apa ini.
Sudah jelas ada dua kelompok penjahat (julukan preman buat mereka terlalu sopan) berniat saling menghabisi di area terbuka yang dijejali warga yang tidak tahu apa-apa (termasuk sopir Kopaja yang berharap dapat duit ekstra dari uang sewa namun malah meregang nyawa ditebas golok para pecundang berlagak jagoan yang hobi main keroyok), kok sikap polisi tergagap-gagap.
Setelah diberitakan media, yang mencuat malah imbauan. Lha kemarin itu sudah jelas siapa saja yang menenteng pedang, siapa yang saling tebas, siapa yang  saling bantai, kenapa tidak ditangkap? Takut?  Copot saja tuh seragam, balik kanan, toh masyarakat juga akan memaklumi. Sebab masyarakat mafhum yang tengah dihadapi polisi waktu itu manusia biadab yang merasa mendapat mandat Tuhan untuk mencabut nyawa sesama. Tapi kalau memang ada sedikit nyali dan harga diri ya mestinya bukan itu pilihannya. Melainkan mengejar dan menangkap semampunya para pecundang biadab itu agar keberingasan tidak menjadi-jadi dan direkam media massa.
Kalau cuma menyakskan dengan jantung berderak kencang, keakutan, ya apa bedanya dengan warga sipil?  Wahai pak Kombes, dan terutama para polisi yang bertugas membasmi penjahat, tolong jangan hapus keyakinan kami akan kinerja Polisi.
Cukup sudah Kami dihibur Presiden yang hobi menyanyi dan merajuk curhat, dan begitu hormat pada Negara Tetangga meski terus menerus dihina. Cukup sudah kami dinista Wakil Rakyat yang banyak mangkir saat sidang soal rakyat dan banyak terbelit kasus korupsi. Jangan lagi ditambah dengan penampilan Polisi dengan nyali setara ayam sayur. Ayo, bangkitkan keberanian kami, pimpin kami untuk berani menghadapi penjahat berlabel preman semacam itu. Kami sudah lelah didera pelbagai kesulitan. plisss……deh….
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: