Back to Kompasiana
Artikel

Metro

Juru Martani

Yang kelihatannya benar, itu belum tentu benar. Kebenaran di dunia ini bersifat relatip, tergantung siapa selengkapnya

E-KTP, Antri 4 jam (oleh-oleh dari Kantor Kelurahan)

REP | 22 October 2011 | 12:20 Dibaca: 323   Komentar: 3   0

Ketika menulis ini, saya baru saja pulang dari kantor kelurahan, memenuhi panggilan dalam rangka perekaman data untuk e-ktp.

Tadi, begitu tiba di kantor kelurahan, saya tengok jam tangan saya, menunjukkan waktu pukul 10.12 siang. Saya melihat sudah banyak warga yang berkumpul disana sedang mengantri menunggu giliran.

Segera saya memasuki kantor dan menuju ke sebuah meja Pendaftaran. Disana telah menunggu seorang laki-laki yang bertugas menerima dan melakukan administrasi pendaftaran. Sambil penunjukkan selembar surat undangan resmi dari kelurahan, saya mengatakan kepadanya bahwa saya ikut mendaftar.

Petugas tsb kemudian menerima surat undangan atas nama saya tersebut seraya berkata bahwa saya diharap mengantri dan menunggu panggilan untuk mendapat giliran.

undangan

Pada saat pendaftaran tersebut saya sedikit bertanya dalam hati, bagaimana dia bisa mengatur antrian yang sedemikian panjang, bila saya saja yang baru mendaftar mungkin sudah pada antrian ke sekian ratus orang ?

Kemudian sempat saya sedikit bertanya, apakah tidak diberikan semacam kartu nomor antrian, agar saya bisa mengetahui bahwa saya berada pada posisi antrian keberapa ?.

Jawab petugas itu sangat sederhana, sambl meletakkan surat undangan atas nama saya pada tumpukan kertas undangan lainnya dia berkata bahwa nanti akan dipanggil saat dapat giliran.

Sayapun juga tidak memperpanjang persoalan, sebab saya juga tidak ingin membuat keributan masalah antrian tersebut.

Kembali dalam hati saya, ” ah.. ini pertanda kurang baik, sebab ini pasti akan menjadi sebuah waktu penantian yang lama dalam menunggu giliran”.

Benar saja, saya menegok kembali jarum jam pada arloji saya sudah menunjukkan pukul 11.15. Berarti sudah lebih satu jam saya berada disana dan belum menunjukkan gejala gejala pemanggilan pada giliran saya.

Sayapun melepas kejenuhan dengan berjalan mondar mandir, ngobrol sana sini dengan teman teman dan warga se RW dengan saya.

Dalam obrolan tersebut saya bisa mengambil kesimpulan bahwa mereka semua juga merasakan hal yang sama dengan saya, bahwa menunggu antrian yang tidak jelas ini sungguh membikin kesal dan  sangat membosankan.

Sesekali terdengar umpatan umpatan kekesalan mereka, ada pula yang melontarkan ide bagaimana sebaiknya membuat sistem antrian yang baik.

Sampai kemudian nama saya dipanggil, dan saya segera menghampiri petugas pendaftaran tadi. Kemudian petugas itu mengarahkan saya untuk masuk ke sebuah ruangan sembil menyerahkan kembali kepada saya selembar surat undangan atas nama saya, yang nanti harus ditunjukkan kepada petugas perekaman data.

Saya kemudian mengikuti saja perintahnya untuk masuk dalam ruangan tersebut. Saya berpikir, ini pasti sudah dekat dengan giliran saya. Dengan terburu-buru saya masuk ruangan karena sudah tidak sabar lagi menunggu giliran. Ruang itu adalah semacam ruang pertemuan yang sudah dikosongkan, dengan kapasitas yang dapat menampung sekitar 200 orang.

Ternyata …. saya masih harus mengantri lagi, sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 12.30, berarti saya sudah menunggu 2 jam lebih.

Cukup lama juga, tapi saya agak terobati karena ruang tunggu berikutnya tersebut cukup nyaman, karena selain terlihat bersih, juga telah dipasang 2 unit AC Windows, dan 2 unit kipas angin (ceiling fan) . Disana sudah ada sekitar 30 an kursi yang membentuk sebuah lingkaran dan bermuara pada sebuah ruangan kecil, dimana perangkat komputer untuk perekaman data berada.

Saya langsung mengambil kesimpulan bahwa ini sebuah antrian lagi. Jadi ketika menunggu diluar tadi merupakan antrian bagian pertama, dan ruangan ini adalah juga sebuah bentuk antrian, tapi untuk tahap kedua.

Lucu sekali model antrian itu, sebanyak 30 orang sekaligus dipanggil masuk, kemudian duduk dikursi yang ditata melingkar. Bila sudah ada yang dapat giliran kemudian pergi, maka tentu kursinya kosong dan setiap orang wajib pindah dari satu kursi ke kursi sebelahnya yang kosong itu. Saya melihat pemandangan yang sungguh aneh dan lucu, karena semua yang mengantri bukanlah anak anak tapi warga yang sudah cukup berumur, tapi mereka kemudian harus bergerak secara bersama sama untuk pindah duduk ke kursi di sebelah kanannya yang kosong . Mirip permainan ‘kodok loncat’ , sambil bersama sama bergumam, “ayo geser.. geser..” ha.. ha.. ha..

Pantas kenapa dari awal para pengantri tidak diberikan nomor antrian, dan ternyata inilah jawabannya.

Secara bertahap dan pasti, tempat saya dudukpun kemudian semakin mendekati pintu ruang perekaman data. Saya tengok lagi jam menunjukkan pukul 13.15, “Wuihh sudah 3 jam saya mengantri”.

Akhirnya giliran saya tiba, saya sudah masuk ke ruangan perekaman data

Begitu memasuki ruang tersebut, saya melihat terdapat 2 set peralatan komputer lengkap dengan alat scan tanda tangan, kamera digital dan iris (cornea mata) scanner, yang secara bersamaan dapat melayani 2 orang.

Kali ini saya kemudian dilayani oleh petugas perempuan, yang sekilas menanyakan nama saya dan golongan darah untuk sekedar klarifikasi singkat. Berikutnya saya melakukan tanda tangan diatas sebuah alat yang cukup canggih untuk merekam tanda tangan saya (signature scanner), merekam sidik jari dan cornea mata. Dan terakhir adalah pengambilan gambar untuk pas foto.

Proses kegiatan perekaman data untuk kepeluan e-KTP tsb sesungguhnya sangat singkat, paling lama 5 menit, tidak lebih. Tidak sebanding dengan periode waktu saya menunggu yang sampai 3 jam lebih itu.

Setelah selesai saya merasa lega, karena masa masa yang membosankan telah berlalu. Terakhir saya melihat jam tangan saya, menunjukkan pukul 13.50.

Berarti total waktu yang saya habiskan dalam masa antrian menunggu perekaman data untuk e-ktp hingga selesai adalah 4 (empat) jam.

Hahh 4 jam ?

Iya benar 4 jam untuk menunggu proses yang hanya 5 menit itu.

Sungguh Ruuar biasa..

Demikianlah tulisan ini saya buat tanpa menyebutkan identitas kantor kelurahan manapun, sebab memang tujuan saya atas tulisan ini hanya sebagai bahan masukan dan evaluasi kepada pihak terkait, terutama kantor kelurahan ybs dan kantor kelurahan lainnya yang belum melaksanakan kegiatan tsb, untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat.

Semoga bermanfaat.

Salam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelajaran Akan Filosofi Hidup dari Pendakian …

Erik Febrian | | 18 April 2014 | 10:18

Memahami Penolakan Mahasiswa ITB atas …

Zulfikar Akbar | | 18 April 2014 | 06:43

Kalau Sudah Gini, Baru Mau Koalisi; …

Ali Mustahib Elyas | | 18 April 2014 | 11:32

Mulai Terkuak: Penulis Soal UN “Jokowi” …

Khoeri Abdul Muid | | 18 April 2014 | 11:32

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 7 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 8 jam lalu

Senjakala Operator CDMA? …

Topik Irawan | 9 jam lalu

Tips Dari Bule Untuk Dapat Pacar Bule …

Cdt888 | 10 jam lalu

Seorang Ibu Memaafkan Pembunuh Putranya! …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: