Back to Kompasiana
Artikel

Metro

Nur Terbit

Nama lengkap : Nur Aliem Halvaima, 34 tahun (1980-2014) jadi wartawan dan editor Harian Terbit selengkapnya

Ssssttt…. Ini Dia Tempat “Ngetem” Wanita PSK di Jakarta

REP | 13 December 2011 | 10:30 Dibaca: 61658   Komentar: 3   0

13237480131174184399

FOTO ILLUSTRASI : WARTA KOTA

SEJUMLAH  “kantong-kantong” tempat transit dan transaksi wanita pekerja seks komersial (PSK) di sejumlah sudut kota Jakarta, saat ini makin marak dikunjungi pria “hidung belang”. Ironisnya, belum ada tindakan penertiban yang berarti dari petugas Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) maupun Suku Dinas Sosial.

Berdasarkan pantauan sekilas, lokasi “kantong-kantong” PSK di Jakarta — salah satunya  penelusuran di sejumlah wilayah di Jakarta Timur — diketahui terdapat beberapa “kantong-kantong” tempat transit para wanita PSK tersebut. Antara lain di Kawasan Industri Pulogadung (PT JIEP), rel Kereta Api Gunung Antang Jl Matraman Raya, sepanjang jalan depan LP Cipinang dan sepanjang rel Kereta Api Cipinang.

Di Kawasan Industri Pulogadung, tenda-tenda dan warem (warung remang-remang) sejak sore mulai digelar, dan selepas Magrib musik hingar-bingar yang diputar dari vcd player terdengar memekakkan telinga.

“Suara musik seperti layaknya di bar, terdengar jelas bagi pengendara motor maupun mobil yang melintas karena Waremnya memang berada di pinggir jalan sepanjang jalan menuju areal Tempat pemotongan Ayam (TPA) Rawakepiting,” kata Albert, karyawan sebuah perusahaan di kawasan PT JIEP, Pulogadung.

Pengamatan di tempat ini selalu ramai setiap malam apalagi malam minggu. Namun bisa tiba-tiba berubah sepi, jika ada rencana operasi PSK dari tim gabungan Pemkot Jakarta timur. Diduga rencana operasi sudah keburu bocor hingga terkadang tak satu pun PSK berhasil dijaring petugas.

Lokasi tempat “ngetem” para PSK di Jakarta Timur yang tak kalah ramainya, adalah jalan arah Jatinegara melewati Jl Pemuda, Jl Pramuka, Jl Matraman Raya hingga ke Gunung Antang. Di tempat ini, PSK melakukan “transaksi birahi” di sepanjang rel KA.

Tak jauh dari lokasi tersebut, tempat “mangkal” PSK lainnya adalah di depan LP Cipinang dan sepanjang rel Kereta Api Cipinang, hampir setiap malam wanita penghibur mejeng di tepi jalan. Mereka menjajakan diri berdampingan dengan penjual durian, sehingga terkesan keduanya bersaing saling “berebut” pembeli.

Komandan Satgas Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Timur, Sarpu, mengaku sudah berkali-kali melakukan operasi di sejumlah “kantong-kantong” lokasi transit para PSK. Mereka yang sedang kencan dengan pria hidung belang langganannya, diangkut saat digrebek petugas kerja sama Sudin Bintal Kesos (Suku Dinas Pembinaan Mental Kesejahteraan Sosial).

“Setiap kali operasi, pasti ada saja yang diangkut. Mereka langsung dibawa petugas dan dikirim ke Panti Sosial Ceger, Cipayung. Operasi memang kadang bocor, karena PSK di sejumlah tempat sudah keburu kabur sebelum petugas datang,” kata Sarpu.

Masyarakat berharap, Satpol PP dan Sudin Sosial menggiatkan operasi untuk mengurangi kegiatan para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) ini, terutama mereka yang berkeliaran di tepi jalan.

“Jumlah PMKS termasuk PSK, kelihatannya terus meningkat, dan sangat meresahkan warga di sekitar tempat mereka mengumbar nafsu. Pak Walikota harus segera memerintahkan anak buahnya untuk bertindak,” komentar Haji  Abdurrahman, tokoh masyarakat yang juga pengurus ormas keagamaan di Jakarta Timur.

Dari hasil pendataan petugas setiap kali usai razia, ternyata yang terjaring di antaranya diduga adalah muka-muka lama. Artinya, mereka sudah lama “berpraktek” lalu tertangkap. Masuk ke panti sosial, diberi ketrampilan, lalu dipulangkan ke kampung halaman. Di kampung rupanya tidak betah. Lalu balik lagi ke Jakarta mengadu nasib. Eh kena razia lagi. Begitu seterusnya. Bolak-balik tiada akhir.

Informasi lain yang penulis peroleh dari lapangan, keberadaan wanita PSK yang menjajakan diri ini, diduga sebagai akibat ditutupnya lokasi pelacuran liar di sejumlah tempat di Jakarta. Misalnya, dampak beralihfungsinya lokasi prostitusi Boker, di Jl Raya Bogor, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur menjadi sport centre. Kramat Tunggak, Jakarta Utara menjadi Islamic Centre. Mereka pun lalu menyebar ke jalan.

(www.aliemhalvaima.blogspot.com)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kejanggalan Hasil Laboratorium Klinik …

Wahyu Triasmara | | 19 September 2014 | 12:58

“Kita Nikah Yuk” Ternyata …

Samandayu | | 19 September 2014 | 08:02

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Seram tapi Keren, Makam Belanda di Kebun …

Mawan Sidarta | | 19 September 2014 | 11:04

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 5 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 6 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 12 jam lalu

Surat untuk Gita Gutawa …

Sujanarko | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 7 jam lalu

“Apartemen” untuk Penyandang …

Arman Fauzi | 8 jam lalu

Janji Demokrasi Kita …

Ahmad Fauzi | 8 jam lalu

Kacau Sistem, Warga Ilegal …

Imas Siti Liawati | 8 jam lalu

Perekayasaan Sosial: Bensin Premium Perlu …

Destin Dhito | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: