
Dibaca: 105
Komentar: 4
Nihil

Untuk melihat berita harian Kompas 14 Januari 2011 di atas dengan lebih jelas, klik kanan, open image in new tab.
Peristiwanya terjadi minggu lalu, ini adalah berita lanjutan mengenai meninggalnya salah satu korban.
Alinea ke enam berita menjelaskan apa yang dilakukan Zarkasih terhadap tabung LPG yang bocor. Bila berita ini benar, perlu diteliti apakah banyak anggota masyarakat yang memiliki pendapat seperti Zarkasih, yakni memasukkan tabung yang bocor ke dalam ember, menutupnya dengan kain basah, lalu menyiraminya dengan air. Dari siapa Zarkasih mendapatkan prosedur penanganan tabung LPG bocor seperti ini?

Salah paham Zarkasih seharusnya dicegah dengan pendidikan umum atau sosialisasi kepada masyarakat. Menurut tabel Rencana Aksi konversi minyak tanah ke LPG, ini adalah tugas Kementrian PP (Perindustrian dan Perdagangan?).
Pertamina tugasnya cuma satu, yakni Pendistribusian Kompor dan Paket LPG Bersubsidi.
Kenapa saya melihat hampir semua hal yang menyangkut LPG dikerjakan Pertamina? Kemana yang lainnya?
Saya tidak tahu apakah Daftar Rencana Aksi tersebut masih berlaku, atau dalam perjalanannya memang ada perubahan, dan pemerintah menugaskan hapir segala sesuatunya mengenai LPG kepada Pertamina.
Pertumbuhan pemakaian LPG di Indonesia tidak alamiah, karena program konversi tadi.
Programnya tampaknya tergesa-gesa, dan melupakan aspek pengembangan sarana dan pendidikan baik bagi penyelenggaranya maupun bagi konsumennya. Tentu saja program semacam ini segera ditangkap oleh para pebisnis, yang tujuan utamanya adalah keuntungan. Pebisnis makin antusias memasuki wilayah dengan peraturan yang sangat sedikit, ambil untung segera, sehingga ketika peraturan makin mengikat (untuk keselamatan dan keamanan konsumen) modal sudah kembali, bahkan sudah untung.
Penanganan LPG memerlukan kompetensi yang lebih tinggi daripada penanganan BBM. Hampir di semua aspek: pengukuran, perhitungan, peralatan, penanganan. Distribusi LPG yang meningkat secepat kilat menyebabkan beban lebih bagi peralatan dan jajaran Pertamina. Peralatan (sarana dan fasilitas) harus disesuaikan, kompetensi personel harus ditingkatkan.
Kekurangan personel yang kompeten menyebabkan banyak posisi pejabat distribusi diduduki oleh tenaga yang belum memenuhi kriteria. Mungkin juga kriterianya memang belum ada.
Sarana dan personel penyelenggara LPG di Pertamian memerlukan perhatian yang berwenang (Kementrian BUMN?).
Apa sih LPG itu? Segitiga api. Apa yang bisa bocor?-memperkuat-sistem-katup-gas/