Back to Kompasiana
Artikel

Metro

Fajar Triyanto

Learn to Learn..........

Kisah Korban Hipnotis Melalui Telepon Genggam

REP | 09 February 2012 | 03:27 Dibaca: 4195   Komentar: 6   2

13287103181281078134

Hati-Hati dan waspada!! Apakah Anda termasuk orang-orang yang terpaksa merantau dan harus meninggalkan kedua orang tua anda di rumah?

Mungkin kisah ini berguna bagi kawan-kawan yang terpaksa harus meninggalkan kampung halaman dan meninggalkan kedua orang tua yang kita cintai di rumah. Bahwa Kejahatan selalu mengintai siapapun, kapanpun dan dimanapun. Apa yang anda rasakan ketika mengetahui orang tua yang kita cintai menjadi korban sebuah kejahatan tanpa kita bisa berbuat banyak karena jarak yang membentang?
Apa yang saya khawatirkan ternyata benar terjadi, beberapa hari yang lalu Ayah saya menjadi korban penipuan lewat telepon genggam. Begini ceritanya:

Saya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, kesemuanya laki-laki, kami bertiga lahir dan dibesarkan dari keluarga petani di sebuah kampung, Provinsi Jawa Tengah. Saya dan Kakak pertama bekerja di Ibu kota, sedangkan Kakak kedua saya bekerja di Palembang, sehingga praktis, kami harus meninggalkan kedua orang tua kami di kampung halaman. Pada beberapa kesempatan, kami menyediakan waktu untuk berkumpul bersama di kampung.

Beberapa tahun yang lalu, ketika Saya bisa mudik ke kampung halaman, Saya berinisiatif untuk membelikan sebuah telepon genggam untuk Ayah, agar sewaktu-waktu dapat saling mengirimkan kabar. Dengan petunjuk singkat, akhirnya Ayah sudah dapat menggunakan telepon genggam tersebut. Tak lupa pula sebelum saya kembali ke perantauan, Saya sampaikan berbagai bahaya penipuan yang selalu mengintai para pengguna telepon genggam lengkap dengan trik-trik menghadapi para penipu via telepon genggam. Ayah saya mengangguk sebagai tanda bahwa beliau telah mengerti.

Hari Senin, 6 Februari 2012  sesudah maghrib, Telepon Ayah berbunyi, begitu di angkat, dilayar telepon terpampampang sebuah nomor asing  082163796666 yang sebenarnya tidak tercatat dalam phone book telepon ayah saya. Singkat kata  terjadilah percakapan antara Ayah saya dengan penelepon asing tersebut. Penelepon asing yang akhirnya menjadi “Penipu”  tersebut mengaku sebagai anaknya. Entah bagaimana proses percakapan yang terjadi, sampai akhirnya Ayah mengira bahwa penelepon asing tersebut adalah  Kakak kedua saya yang bekerja di Palembang. Merasa mendapat angin segar, Penipu itu mengabarkan bahwa nomor teleponnya telah berganti dengan nomor baru, yaitu nomor yang sedang dipakai menelepon saat ini.  Entah kenapa Ayah saya langsung saja percaya bahwa yang menelpon itu adalah kakak saya, sehingga tanpa melakukan konfirmasi kepada kakak saya, Ayah saya langsung saja menghapus Nomor lama Kakak Saya dan menggantinya dengan nomor telepon Penipu tersebut.

Keesokan harinya tepatnya pada hari selasa tanggal 7 Februari 2012, “Penipu” itu mulai melancarkan aksinya. Dia kembali menelepon Ayah dan menyatakan dirinya mengalami menabrak seseorang ketika dalam perjalanan menuju ke kantor, dan saat itu penipu itu mengatakan bahwa dirinya sekarang ada di rumah sakit. Penipu itu meminta Ayah saya segera mengirimkan pulsa karena pada saat itu keadaan sangat tidak memungkinkan untuk keluar dari rumah sakit karena sedang mengurus korban kecelakaan itu.  Ayah saya panik mendengar kabar tersebut dan segera saja memenuhi permintaan penipu tersebut dengan langsung mengirimkan pulsa senilai Rp. 50.000,- dengan harapan kakak saya segera dapat mengatasi permasalahan yang dihadapinya.  Apakah cukup sampai disitu aksinya penipu itu? TIDAK.

Beberapa saat kemudian, telepon genggam Ayah saya kembali berbunyi kali ini Nomor 082164316611, belum bisa dipastikan Apakah ini penipu sebelumnya atau jaringan dari penipu tersebut. Pengguna Nomor 082164316611 ini mengaku sebagai seorang polisi yang menangani kecelakaan yang sedang dialami kakak saya tadi dan mengatakan bahwa dia membutuhkan pulsa untuk menghubungi pihak-pihak terkait guna menyelesaikan kecelakaan tersebut. Tak tanggung-tanggung Penipu tersebut meminta pulsa senilai Rp. 200.000,- dan menjamin bahwa kakak saya akan baik-baik saja. Lagi-lagi tanpa berfikir panjang Ayah saya langsung mengirimkan pulsa senilai Rp. 200.000,-. Setelah melakukan 2 (dua) kali transfer pulsa dengan total nilai Rp. 250.000,- tersebut, Ayah kemudian menelpon Kakak saya yang di Jakarta, untuk memberitahukan kabar kecelakaan tersebut. Sesaat setelah menerima telepon dari Ayah, sekitar pukul 13.00 WIB, Kakak saya yang di Jakarta memberi kabar bahwa Ayah telah menjadi korban penipuan.

“DeggghhhHHH….!!!”
Tak menunggu lama, Saya segera menghubungi kakak kedua saya yang bekerja di Palembang untuk mengkonfirmasi kabar kecelakaan tersebut. Apa yang terjadi? Ternyata kakak saya tertawa-tawa dan mengatakan bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja, tidak ada kecelakaan seperti yang disampaikan oleh penipu tadi. Setelah memastikan bahwa kakak kedua saya dalam keadaan baik-baik saja, Segera saja saya menghubungi Ayah, dan menanyakan kronologi penipuan yang menimpa Ayah tersebut, hingga akhirnya saya tulis di sini.

Menurut keterangan Ayah, selama menerima telepon dari penipu tadi, Ayah saya juga tidak mengerti bagaimana bisa ia menuruti seluruh instruksi dari penipu tersebut. Entah kenapa Ayah meyakini betul bahwa yang menelepon tersebut adalah Kakak saya yang ada di Palembang. Akhirnya Untuk mengantisipasi serbuan berikutnya, saya menyarankan agar Ayah segera berganti nomor telepon. Apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi, beberapa saat setelah saya selesai menelepon Ayah tadi, ada telepon dari nomor “asing” lagi yang lagi-lagi meminta pulsa senilai Rp. 300.000,- katanya untuk menyelesaikan kecelakaan yang menimpa kakak saya tersebut. Namun Alhamdulillah, serangan ketiga ini tidak berhasil.

Saya hanya bisa mengelus dada, bagaimana orang bisa sedemikian “rakus” dan tega melakukan penipuan dan pemerasan sedemikian rupa, sehingga bagi kawan-kawan yang nanti menerima telepon dari 2 (dua) nomor telepon di atas, Saya sarankan untuk berhati-hati, karena Ayah saya telah menjadi korban pengguna nomor tersebut di atas.

HIKMAH

Dari kejadian tersebut di atas, Saya tak serta merta menyalahkan Ayah yang seharusnya mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada anak-anaknya mengenai kabar kecelakaan tersebut sebelum memenuhi permintaan-permintaan aneh dari para penipu tersebut. Saya juga tidak menyalahkan Ayah yang seharusnya berfikir jernih terlebih dahulu. Saya mengerti bahwa ada kemungkinan Ayah melakukan itu semua dalam keadaan tidak sadar alias terkena gendam atau hipnotis yang sekarang ini memang marak terjadi. Sudah banyak orang yang menjadi korban kejahatan dengan modus hipnotis melalui telepon genggam ini, bahkan ada seorang Ibu yang harus kehilangan Rp. 23 juta rupiah karena menjadi korban hipnotis ini. Beberapa kisah tentang kejahtan hipnotis dapat di baca di : sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini.

Selain kejadian di atas, saya sendiri juga pernah beberapa kali menerima telepon dari  nomor-nomor asing yang menyatakan bahwa saya memenangkan sebuah hadiah mobil, hadiah pulsa dan lain-lain yang ujung-ujungnya adalah meminta saya untuk melakukan transfer ke rekening penipu tersebut, akan tetapi Alhamdulillah, sampai sekarang saya bisa mengatasi modus-modus penipuan tersebut, bahkan tak jarang percakapan tersebut membuat saya harus di maki-maki oleh penipu tersebut karena membuat mereka bicara terlalu banyak, namun tak membuahkan hasil.
Berikut tips dan trik sederhana untuk mengatasi penipuan via telepon genggam

  1. Bila ada nomor telepon yang tidak dikenal yang menyampaikan kabar bahwa keluarga anda mengalami kecelakaan dan kabar buruk lainnya, jangan terburu-buru untuk mempercayainya. Gali informasi detil tentang kecelakaan tersebut, seperti siapa nama keluarga anda yang mengalami kecelakaan tersebut, kecelakaan dimana dan sebagainya, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membuat penipu tersebut cukup kesulitan untuk menggambarkan peristiwa tersebut jika ternyata hanyalah peristiwa fiktif.
  2. Bila Penipu tersebut mengaku sebagai anggota keluarga anda, jangan terburu-buru untuk menebak-nebak nama keluarga anda, karena dikhawatirkan penipu akan mengatakan iya dan menyedot informasi dari anda, sehingga leluasa untuk menanamkan pengaruhnya ke diri anda. Tanyakan siapa namanya, dan bekerja dimana.
  3. Bila Penipu tersebut mengaku sebagai polisi, tanyakan siapa namanya, pangkatnya, bertugas di kesatuan mana dan di mana kantornya. Hal ini sudah tentu akan mempersulit gerakan penipu tersebut.
  4. Apabila penipu tersebut mulai melancarkan aksi dengan meminta pulsa, bolehlah anda sampaikan bahwa keluarga anda itu memakai kartu pasca bayar dan tidak pernah sekalipun meinta transfer pulsa.
  5. Ada baiknya anda tidak memberikan nomor rekening dan data-data pribadi anda kepada penelepon asing, manakala anda dikatakan menjadi pemenang dari sebuah kuis, atau memenangkan hadiah mobil dan sebagainya.

Setelah membaca tulisan ini, mungkin ada baiknya kawan-kawan bisa menyampaikan kejadian ini kepada orang-orang yang anda sayangi, untuk menjaga agar orang-orang yang kita sayangi tidak menjadi korban dari penipu-penipu yang memanfaatkan telepon genggam tersebut.

Semoga bermanfaat….

Sumber gambar

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 10 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 10 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 10 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: