
Lulusan Sarjana S1 yang sedang melanjutkan ke S2 di Apollos Jakarta. Ketua Pemuda GAA Bekasi; Koordinator Misi Pemuda Nasional GAA Bekasi. Yang jatuh cinta pada Kompasiana pada pandangan pertama dan menyukai dunia jurnalistik. citizen journalist yang smart, gaul, aktif, serius, pemikir, cool,ga mudah putus asa, menyukai sesuatu yang baru, dan suka mencari tahu sesuatu, dan suka menulis.
Dibaca: 258
Komentar: 4
1 dari 1 Kompasianer menilai aktual

JAKARTA, KOMPASIANA - Kehilangan seseorang yang dikenal dan berjasa adalah sesuatu yang berat untuk dirasakan setiap orang. Itulah yang telah dialami oleh seluruh jajaran Almameter Sekolah Tinggi Teologi Apolos (STT Apolos), khususnya dirasakan oleh STT Apolos Jakarta, Manggarai yang turut berduka atas meninggalnya almarhum Ibu Laura Frederika Kartini Pantouw, istri Ketua Yayasan STT Apolos, Pdt. DR. Hendrik Job Ruru, Ph. D. Sehingga, kemarin (23/02) 2 bus kopaja 620 dan 2 mobil pribadi berangkat untuk melayat di rumah duka yang terletak di Jl. H. Kamang no. 28, Pondok Labu, jakarta Selatan.
Ada peribahasa mengatakan: Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang, sedangkan manusia mati meninggalkan JASA dan MURID. Manusia mati meninggalkan nama memang sudah biasa. karena setiap orang punya nama. Karena nama memang selalu dikenang. Apalagi kalau yang punya nama adalah orang baik. Tetapi setelah beberapa waktu, nama akan dilupakan, kecuali dia orang terkenal seperti seorang artis atau selebritis, pahlawan, pejabat tinggi negara, atau presiden.
Berbeda kalau seseorang memiliki JASA dan MURID. Orang yang memiliki jasa memuridkan namanya akan kembali dan selalu dikenang oleh murid-murid yang pernah dilatih dan diajar olehnya. Itulah hasil yang mengikuti almarhum Ibu yang biasa diakrab dipanggil kak Laura itu di dalam Pelatihan Kepemimpinan dan Pemuridan Apolos, jakarta atau biasa disebut Pemuridan.
Almarhum yang adalah Mantan Ketua LKPA ini pada akhirnya harus menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pertamina Pusat, Kebayoran Baru pada jam 23.50 wib, setelah menjalani operasi di usus. Tiga kali operasi dan 1 kali cuci darah yang telah dijalaninya kini telah berhenti. Seorang Mahasiswa STT Apolos tingkat akhir, Yemima Daeli pun menanggapinya dengan sedih, “Memang sudah waktunya.” Bahkan seorang alumni S1, Yuli Tapilatu, yang kini sedang menjalani S2 di STT Apolos Jakarta pun turut menyampaikan, “Turut berduka cita. Penghiburan sejati hanya di dalam Yesus Kristus.” kepada keluarga dalam tulisannya di BBM.
Jenazah rencana akan dikebumikan oleh pihak keluarga di Kampung Kandang pada hari Jumat, 24 Pebruari 2012, jam 13.00.
Kedatangan jajaran STT Apolos ke rumah duka, mengungkapkan turut berduka cita melalui ibadah penghiburan yang dipimpin oleh Mahasiswi Apolos Etika Kristiani Halawa, dan perenungan Alkitab oleh Pdt. Julius Parapat, M. Th. Dan diakhiri dengan doa penutup oleh Pdt. Steven Palilingan, M. Th. Serta Pdt. Vicky BGD Paat, M. Th., pun turut mengambil bagian dalam memberikan kata-kata penghiburan mewakili almameter STT Apolos, sebelum pulang meninggalkan tempat duka. Kedatangan STT Apolos dihadiri oleh seluruh staf, Mahasiswa/i, dosen, dan alumni STT Apolos Jakarta.
Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Itulah yang tengah dihadapi pihak keluarga atas peristiwa ini. Rasa syukur yang telah Tuhan hadirkan dalam seorang ibu dan istri di tengah-tengah keluarga mereka sungguhlah ajaib dan penuh kasih dialami oleh keluarga. Tapi kini Ibu yang akrab dipanggil Laura ini telah tiada. meninggalkan sejuta senyum dan kenangan atas pengabdiannya terhadap Lembaga Pelayanan Mahasiwa Indonesia (LPMI) dan khususnya Latihan Ketrampilan dan Pemuridan Apolos (LKPA). Selamat Jalan Ibu Laura. Pengabdian dan Pelayanan Ibu akan menjadi semangat bagi keluarga, teman-teman dan murid-murid yang telah ditinggalkannya.