Back to Kompasiana
Artikel

Metro

Kuncoro Toro

Menulis adalah pekerjaan mudah yang tidak dapat dilakukan oleh semua orang, namun percayalah dengan membuat selengkapnya

Mau Tau Mengapa Harga daging Sapi Meroket?

REP | 22 November 2012 | 21:36 Dibaca: 648   Komentar: 0   1

Ada apa dengan daging sapi? Ada apa dengan Sapi-sapi yang ada di Indonesia?

Mengapa harga daging sapi ikutan meroket apakah ada hubungannya dengan harga minyak dunia?

Tentunya tidak ada hubungan korelasi antara harga sapi yang meroket dengan harga minyak dunia yang melambung tinggi.

Mau tau mengapa harga daging sapi meroket yaa, karena daging sapi tidak disubsidi oleh pemerintah, hahahaha

Kalau harga minyak dunia meroket harga premiun akan tetap Rp. 4.500,yang teriak pemerintah yang karena subsidi membengkak dan membebani APBN.

Kalau harga daging sapi yang meroket yang teriak tukang bakso dan tukang sate padang, karena mereka tidak menaikan harga namun mengurangi margin keuntungannya. Pasalnya jika menaikan harga dagangannya maka mereka akan ditinggal konsumennya.

Kenaikan harga daging sapi menurut salah satu artikel di www.setkab.go.id Kenaikan harga daging sapi yang terjadi saat ini sebagai dampak dari ketidakseimbangan antara kuota produksi dan tingginya permintaan masyarakat terhadap daging sapi.

Berdasarkan pantauan harga di daerah-daerah pasar sentra konsumsi daging sapi,khususnya di sejumlah pasar tradisional Jabodetabek, pada minggu ke tiga  Nopember 2012 harga daging bergerak naik di kisaran Rp.98.000 - Rp.105.000 per kg lebih tinggi dari kondisi normal semula pada akhir bulan Oktober 2012 antara Rp.65.000 - Rp.75.000 per kg.

Lalu bagaimana dengan nasib tukang bakso dan tukang sate padang jika harga daging terus meroket? Haruskah subsidi BBM sebagian dialihkan untuk mensubsidi daging sapi agar kita masih bisa menikmati bakso dan sate padang? Hanya waktu yang bisa menjawab karena tukang daging langgananku dipasar sudah tidak berjualan karena tidak ada suply untuk berjualan .

Selamat Malam dan Selamat Beristirahat.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 4 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 5 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 10 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 10 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 11 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: