Back to Kompasiana
Artikel

Metro

Ragile

*Tidak penting SIAPA yg menulis, yg penting APA yg ditulis*Lahir: Brebes 1960. Pernah kuliah Sastra selengkapnya

Cewek Panggilan Pejabat dan Pengusaha Booking Kamar Hotel and Apartement

REP | 01 December 2012 | 15:40 Dibaca: 57677   Komentar: 0   6

“Wah, gak nyangka yah dia itu cewek panggilan? padahal tampang alim dan anggun, Ck Ck Ck…” demikian terperangahnya orang-orang setelah tau.

Tetangga saya berparas cantik, seksi, anggun, keren, usia 30an.

Enam bulan kemudian baru tau ternyata dia call girl di hotel “M” di jalan Matraman Raya Jakarta Timur seberang Toko Buku Gramedia. Belakangan pindah ngetem di grup hotel yang sama di Jalan Pramuka Jakarta Timur. Dia ngaku sendiri profesinya, menyebut siapa pelanggannya, makanya kami tau. Itu kejadian pertama saya kenal call-girl (gadis panggilan) kelas atas karena rumah kami dempetan awal 1990an.

Siapapun Anda sulit menduga dia wanita panggilan, jalan abis isya pulang abis shubuh, antar jemput sedan Eropa. Dandanan dia layaknya wanita karir, gak ada tampang, maaf, perempuan nakal. Hanya bila kita ngobrol-ngobrol menjurus wilayah selangkangan baru ‘deg’ ada sinyal ke arah dunia mesum buat cari duit. Bisa jadi Anda kasihan koq secantik dia mau-maunya menjalani hidup yang dia sadari memalukan.

Bahwa dia ngetem di hotel “M” dengan booking kamar duluan tidak perlu dipungkiri. Dia punya kalkulasi akurat. Bila room rate Rp.200.000-/malam pasti untung karena bisa melayani laki Rp.500.000,- per 5 jam. Apalagi pelanggan adalah pejabat negara pasti ada bonus barang berharga: jam tangan, sepatu, tas, fashion product.

Walaupun ada bukti pemilikan harta barang mewah tapi sulit membuktikan bahwa benar pejabat X dan Y yang jadi pelanggan di kamarnya. Semua serba tertutup, pejabat tidak meninggalkan bukti check-in karena si cewek yang ngedaftar sebagai tamu hotel di Front Desk. Lagian sudah lumrah pejabat nyelonong masuk hotel dari pintu belakang dekat parkir agar lolos dari pandangan mata publik.

Lain lagi gaya mahasiswi

Sebuah hotel “S” di jalan Soepomo Jakarta Selatan dulu terkenal buat ngetem “mahasiswi mandiri”. Maksudnya mandi sendiri sambil ngantongi duit setelah dibayar lelaki usai kelonan dalam kamar hotel. Kebanyakan mahasiswi Universitas “S” jurusan perhotelan dan pariwisata di sekitar hotel “S”. Mereka masih sweet seventeen dan pandai menyamarkan “punya kerja” sambil kuliah. Mereka sangat tertutup tapi mau nitip nomer telpon kepada Front Officer hotel buat terima order “bobo-bobo siang”.

Pernah saya ketemu satu mahasiswi tsb, ya ampun, tampangnya lugu amat dan baby face lagi. Gak nyangka deh dia mau begitu. Kebetulan saya kenal GM Hotel jadi saya tau dia ninggalin nomer telpon buat terima order. Konon 20% masuk jatah preman staff hotel dan 5% buat Satpam hotel. Demi keamanan siapa tau ada razia polisi.

Mereka pilih pilih lelaki yang mau dilayani.

Biasanya liat dulu dari jauh tampang si laki kayak apa. Kalau tidak cocok order batal biasanya dengan alasan bahwa sudah keduluan order orang lain. Tapi langganan tetap bisa menjurus ke rumah tangga apabila si laki mau terima bad background si cewek sebagai istri.

Call girl independent

Kalau dulu carl girl dikoordinir mamih dan papih muncikari, jaman sekarang pada maunya independent. Mereka beroperasi dari rumah. Komunikasi cukup pakai HP yang gonta ganti nomer. Mereka baru ke hotel dan apartement kalau dapet order. Jadi kian sulit diterka karena kerahasiaan kian ketat. Ada ibu-ibu rumah tangga, ada mahasiswi, ada wanita kantoran, ada artis figuran. Tapi bukan berarti tidak bisa “dititeni” atau dicirikan. Terutama bila Anda lama di hotel maka Anda mampu membedakan mereka. Sorot mata mereka punya ciri sendiri ketika mereka sedang cari pelanggan.

Tarif jutaan rupiah

Kebanyakan pengusaha dan pejabat demen menggaet carl girl independent. Soalnya samar. Tarif jut-jut-jut tidak masalah wong rahasia dijamin inih. Bisa buat nemenin kondangan, menghadiri seminar, deal bisnis, dll. Alasannya bilang aja partner kerja. Tapi tujuan utama tetap satu: love affair berbayar sesuai tarif pulsa.

Mereka yang pernah saya ajak bicara umumnya ingin segera hidup normal. Tapi sadar tidak mungkin cabut dari dunianya sekarang tanpa kehadiran lelaki yang mau mengentaskan mereka. Masalahnya bagi lelaki pelanggan mereka umumnya adalah ini: tidak percaya si cewek bisa hidup normal dengan menolak sex order dari lelaki lain.

Dulu mainannya di hotel-motel-rumahsusun cukup kasih uang. Sekarang mainannya di apartement agar lebih ekslusive dan amat samar-samar. Misal di sekitar Jalan Rasuna Said Jakarta Selatan tempat hunian orang asing. Malah ada cewek lho yang dibeliin mobil dan rumah buat jaminan/agunan status “pelanggan tetap”. Ehm!

***

Ragile, 1des2012

www.kompasiana.com/ragile

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 16 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 17 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 18 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 19 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: