Back to Kompasiana
Artikel

Metro

Aneppaoji

Anep Paoji, saya tinggal di kota kecil indah dan bersahabat. Suka bisnis, sesekali menulis opini selengkapnya

Adakah yang Istimewa dari Respon Pak Jokowi – Pak Ahok Terhadap Banjir?

OPINI | 21 January 2013 | 05:41 Dibaca: 9001   Komentar: 50   6

follow @ANEPPAOJI

Tak seperti yang diharapkan jutaan rakyat Jakarta,  menjelang 100 hari kinerja  Gubernur DKI yang fenomenal itu, air bah menerjang ibu kota. Korban berjatuhan. Menurut pejabat berwenang, korban mencapai 20 orang, sebuah angka yang tidak sedikit di samping kerugian materil yang belum terhitung angkanya.

Terlapas korban karena banjir langsung atau imbas teror psikologis atas bencana. Yang jelas korban puluhan jiwa bukanlah angka sedikit, sehingga menjadi catatan tersendiri bagi masa kepemimpinan Pak Jokowi – Pak Ahok.  Belum ada tanda-tanda penyebab banjir Jakarta terselesaikan, seperti halnya masalah kemacetan dan urbanisasi yang menyesakkan warga ibu kota.

Respon gubernur asal Solo ini salah satunya langsung meninjau lokasi tanggul yang jebol diduga penyebab utama genangan air di sejumlah wilayah ibu kota. Jokowipun sempat menengok basement gedung UOB yang memakan korban jiwa serta memasukinya dengan perahu karet dan berikutnya menggelar rapat bersama para camat supaya tanggap dengan banjir. Laporan itu lengkap bisa disimak karena televise selalu menyiarkannya dengan detail tanpa henti.

Jokowipun selalu memberikan keterangan, termasuk saat pertama kali berkunjung ke  pusat perbaikan bendungan yang jebol. Katanya, perbaikkan tanggul akan cepat selesai, meski dikabarkan sempat meleset. Tak henti di situ, pernyataan Jokowi yang membuat simpatik para fans dan hesteris dunia maya, sebuah imbauan, supaya rakyat yang kebanjiran jangan meminta-minta di jalan.

Sementara, di beberapa laporan TV masih banyak warga yang belum terevakuasi, apakah karena tidak mau atau karena sama sekali belum terjangkau tim. Bahkan beberapa stasiun TV melaporkan dengan menyediakan ruang telepon pemiarsa khusus yang kena banjir supaya minta pertolongan dan kiriman logistik kepada petugas.

Sebuah kejadian yang lumrah terjadi dalam musibah. Kesibukan tim evakuasi, keluhan pengungsi, hiruk-pikuk pemberitaan media massa hingga kunjungan para pejabat ke lokasi bencana dengan berbagai tingkah khasnya. Tak lupa, sebagai pelengkap penderitaan, istana Presiden sempat kena banjir dan terakhir menyampaikan konfrensi press di lokasi banjir untuk penanganan banjir konfrenhensif.

Di Manakah Kesitimewaannya?

Salah satu yang membuat heroik penghuni facebook, dapat dilihat di komentar berita Kompas.Com yang melaporkan, tentang larangan Jokowi kepada pengungsi minta-minta di jalan. Entah berapa ratus komentar di FB juga di kolom komentar berita tersebut. Kebanyakan menyanjungnya setinggi langit, bahkan terkesan berlebihan. Secara objektif, hal itu baru sebatas pernyataan dan lumrah diungkapkan oleh pejabat siapapun dan dimanapun.

Pertanyaannya adakah repson yang luar biasa atau istimewa terhadap banjir dari Pak Jokowi atau Pak Ahok? Bagi saya, standar-standar saja. Siapapun pejabatnya, menunjukkan raut muka berduka saat berkunjung ke lokasi bencana biasa terlihat termasuk janji-janji manis perbaikkan jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang dengan anggaran sekian-sekian. Dahlan Iskan, menteri BUMN sempat berkunjung sambil “cengengesan” memotong-motong sayuran bersama ibu-ibu di dapur umum pengungsian. Ia pun sempat mengarungi arus banjir yang airnya sampai se dada.

Justeru yang perlu  ditanyakan, bagaiman caranya membuat Jakarta tidak banjir sehingga rakyat tidak pernah mengalami  penderitaan bencana seperti yang tengah terjadi. Sebatas rencana hebat, pernyataan pers dan rapat umum merupakan tindakan biasa dilakukan pejabat lain yang tidak mendapat cap “istimewa”. Bukankah para pakar sudah melontarkannya juga menyarankan jauh-jauh hari? Dalam hal ini, ternyata warga Jakarta sangat memaklumi apapun yang terjadi?

Permakluman memiliki berbagai arti. Bisa terjadi karena belas kasihan, ada juga karena kesiapan mental sebagai konsekuensi permakluman tadi. Mungkin warga Jakarta sudah siap-siap kapanpun dan dimanapun bila kena banjir, sehingga tak akan menuntut siapapun termasuk pemimpinnya jika terkena bencana atau musibah.

Permakluman seperti ini bisa diibartkan, begitu sayangnya kita terhadap anak yang baru bisa meraba-raba perlengkapan rumah. Apapun yang mereka lakukan dibiarkan, meski memecahkan piring, gelas atau perlatan rumah tangga. Asalkan anak kesayangan kita suka, merugikanpun tidak jadi masalah malah disanjung-sanjung sebagai prestasi.

Dalam konteks ini, yang membedakan ternyata hanya respon terhadap musibah atau bencana yang terjadi. Jika respon positif dan penuh permakluman, semuanya seolah baik-baik saja atau menerimanya dengen “suka-cita”. Padahal rakyat Jakarta atau siapapun, berhak mendapat perlindungan dari Negara, termasuk dari bencana.

Hal berbeda jika bencana atau  musibah direspon secara negatif. Berbagai tuntutan ke sana kemari muncul. Mulai RT, RW, Lurah, Camat, Wali Kota dan Gubenur juga presiden, menjadi “tersangka” dan akan segera dihukum minimal dengan caci maki dan sumpah serapah.

Maka sekali lagi, di sini hanyalah sikap yang berbeda terhadap masalah yang dihadapi. Sementara hakikat masalah masih tetap mengancam dan belum terselesaikan. Potensi banjir, kemacetan, polusi udara, ledakan penduduk serta kesemrawutan lain belum bisa diatasi oleh gubernur baru Pak Jokowi dan wakilnya Pak Ahok. Sehingga menjadi pertanyaan, sampai kapan warga Jakarta berbaik hati dan terus memaklumi? Barangkali yang sudah berubah istimewa, hanyalah sikap warga Jakarta dengan berbagai permaklumannya?

ARTIKEL TERKAIT, JOKOWI  VS RIZKY.

INGIN LEBIH SERU MASUK INI

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 8 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 8 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Patah …

Rahab Ganendra | 7 jam lalu

Taklukkan Ciputat Maka Kau Taklukkan …

Dzulfikar | 8 jam lalu

Upacara Peringaran HUT ke-69 PGRI Provinsi …

Aosin Suwadi | 8 jam lalu

Menteri Dalam Negeri dan Menko Polhukam …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Prasasti Galungung 1200M di Desa Panjerejo …

Siwi Sang | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: