Back to Kompasiana
Artikel

Metro

Chrisman Saragih

Lahir di Bandung. Besar di Semarang. Gemar membaca

Blusukan

OPINI | 25 January 2013 | 14:56 Dibaca: 439   Komentar: 12   1

‘BLUSUKAN’

Semasa kecil di Semarang, saya sempat mendengar orang tua berkata kepada anaknya:” Ngger, aja sok blusukan, ora elok.” (Nak, jangan suka blusukan, nggak baik). Tidak ada orang tua yang berkata: “ Ngger, rana ndang lunga blusukan.” (Nak, sana cepat pergi, blusukan). Jadi kita bisa ambil kesimpulan bahwa ‘blusukan’ = tidak berguna, buang waktu dan tidak dianjurkan. Ketika Jokowi mulai ‘blusukan’ di Jakarta (dia sudah ‘blusukan’ di Solo, tapi kegiatannya lolos dari tangkapan kamera), para elite politik negeri ini menganggap Jokowi mau cari simpati dan perhatian, hingga muncul komentar yang sinis tentang acara ‘blusukan’ Jokowi. Mungkin maksud para elite politik baik, yaitu memberi nasihat, kalau mau ‘blusukan’ ya ‘mbok’ nanti saja, menjelang Pemilu 2014, jangan terlalu sering sekali atau dua kali cukup. Nanti diwaktu Kampanye 2014, bolehlah kita, yang ingin menjaring simpati rakyat, duduk di warung bareng dengan rakyat sambil ‘menyeruput’ kopi dengan nikmat (kopi daun jagung apa nikmat buat elite politik?). Sesudah kampanye, apalagi kalau jadi pemenang, tidak perlu lagi ada acara ‘blusukan’, rakyat cukup diberi perintah dan arahan dari ‘atas’ saja. Karena itu beberapa elite politik sepakat agar Jokowi menghentikan  ‘blusukan’ nya. Tapi Jokowi ‘ngeyel’ alias ‘mbandel’.

Seandainya acara ‘blusukan’ Jokowi berlangsung dengan normal-normal saja, agak sedikit tawar dan tidak bombastis, mungkin kasus ‘blusukan’ tidak akan jadi heboh seperti sekarang. Ketika Jokowi ‘blusukan’, elite politik sibuk dengan urusannya dikantor yang ber-AC dan nyaman. Masalah selesai dan kedua belah pihak puas. Persoalan mulai muncul ketika ternyata acara ‘blusukan’ Jokowi jadi heboh. Kemanapun Jokowi ‘blusukan’, warga menyambut dengan gembira. Warga berseru-seru meneriakan namanya dan berebut untuk bersalaman. Wajah riang dan bahagia tampak disekeliling Jokowi, padahal Jokowi tidak membawa hadiah.

Rasa gelisah timbul di hati elite politik, ketika ternyata acara ‘blusukan’ Jokowi jadi terkenal keseluruh pelosok Nusantara. Ini akibat ulah para wartawan yang terus meliput kemanapun Jokowi pergi. Padahal Pemilu 2014 sudah didepan mata dan para elite politik tahu mata panah politik bisa mengarah kemana saja, bagaikan jarum kompas ditengah medan magnit; berputar liar tidak karuan. Apa jadinya kalau Jokowi ingkar janji dan tiba-tiba mencalonkan diri jadi orang nomor 1 Indonesia. Kalkulasi politik jadi berantakan. Kalau begini caranya Jokowi sudah mencuri start. Entah start lomba apa yang telah dicuri? Lomba gundu?

Rasa gelisah berkembang jadi rasa cemas, ketika berita ‘blusukan’ Jokowi dan sepak terjangnya Ahok telah menembus batas negara. Buktinya beberapa Duta Besar bertamu kekantor Jokowi & Ahok sambil menawarkan kerja sama dengan Pemda DKI (Singapura, Brunei, Korea Selatan, Turki, Amerika). Mungkin ada juga Dubes yang ingin melihat Jokowi dari dekat, Gubernur DKI yang baru, yang tampangnya ‘memelas’, tapi di cintai rakyat.

Rasa cemas sekarang bercampur dengan rasa kesal, karena Jokowi & Ahok mulai buka-bukaan dalam hal keuangan pribadi dan keuangan Pemda DKI, berkerja sama dengan BPKP dan KPK. Sekarang semua orang bisa tahu isi kocek Jokowi & Ahok dan isi pundi-pundi Pemda DKI. Sekarang semua orang boleh tahu ‘isi perut’ Pemda DKI. Wah…ini mah sudah keluar dari Pakem alias ‘mbalelo’. Masak persoalan keuangan yang ‘sakral’ dan ‘tabu’ dibuka ke masyarakat. Nggak boleh gitu dong! (maaf, ini cuman pikiran saya).

Tiba-tiba istilah ‘blusukan’ jadi penting maknanya dan sakti. Sekarang ada yang mengaku sudah biasa ‘blusukan’. Kemudian ada yang ‘blusukan’ sambil cari muka. Jadinya istilah ‘blusukan’ punya banyak arti dan harus dipilah-pilah a.l.:

1. Blusukan untuk membantu rakyat

2. Blusukan untuk cari muka

3. Blusukan untuk jadi terkenal

4. Blusukan karena hobi

5. Blusukan karena nggak ada kerja

6. Blusukan karena memang harus blusukan, karena tinggalnya ditempat orang blusukan.

Pusing nggak tuh!

Ada cara agar Jokowi takut ‘blusukan’…. yaitu APBD tidak dicairkan! Kalau tidak ada uang – tidak ada proyek – janji tidak terlaksana – rakyat bakal ngejar-ngejar Jokowi, menagih janji – Jokowi terpaksa ‘ngumpet’ dikantornya. Betul nggak? Tapi kelihatannya Jokowi tidak akan berhenti ‘blusukan’. Nanti kalau kulitnya sudah terlalu hitam karena sengatan matahari dan kena polusi asap kendaraan, baru gantian dengan Ahok (kayaknya Jokowi sendiri yang bilang lho!). Ada metoda baru, bagaimana caranya supaya acara ‘blusukan’ Jokowi tidak bikin heboh? Pindahkan saja ibu kota ketempat lain. Seperti yang terjadi di Solo, diharapkan acara ‘blusukan’ Jokowi bakal luput dari incaran kamera, soalnya wartawan pada sibuk meliput acara ‘pindah rumah’.

Siapa saja sih yang pernah ‘blusukan’ sebelum Jokowi? Sukarno ‘diblusukan’ oleh Belanda ke Flores dan Bengkulu, sementara Hatta ke Digul, agar tidak dapat berhubungan dengan rakyatnya. Jenderal Sudirman ‘blusukan’ dihutan sekitar Yogyakarta untuk memberi semangat tempur kepada pasukannya melawan Belanda, meskipun saat itu beliau dalam keadaan sakit. Ada acara ‘blusukan’ yang nikmat dan gratis, karena biayanya ditanggung rakyat, yaitu ‘blusukan’ keluar negeri dengan dalih studi banding. Mau ikut? Daftarlah di Pemilu 2014.

Mohon jangan tersinggung, tulisan ini karya fiksi, hasil imaginasi otak saya yang bergerak liar tidak menentu. Sampai jumpa!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Sedekah Berita ala Jurnalis Warga …

Siwi Sang | | 24 October 2014 | 15:34

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 3 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 8 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 9 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Angkuh …

Retna Kusumawati | 7 jam lalu

Transfusi Darah …

Raka Pratama | 7 jam lalu

Agama adalah Kebudayaan yang Disucikan …

Kawar Brahmana | 7 jam lalu

KPK Selamatkan Jokowi dari Intervensi …

Rusmin Sopian | 7 jam lalu

Jokowi dan Prabowo, Indonesia Kita …

Awaluddin Madjid | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: