Back to Kompasiana
Artikel

Metro

Ridwan Hanif Rahmadi Gunadi

Mahasiswa ilmu Perpustakaan dan Informasi, Blogger, Internet Marketer, tertarik dengan dunia disabilitas dan otomotif. Follow selengkapnya

Analisa Saya Tentang Hancurnya Xenia Dalam Kecelakaan Maut Purbaleunyi

REP | 08 April 2013 | 17:01 Dibaca: 3909   Komentar: 0   2

Ini bukan berita mengenai kecelakaan Nissan Juke vs Daihatsu Xenia yang menelan 5 orang korban dan 1 orang terluka, tetapi sedikit sebuah sudut pandang dari saya yang agak gatal melihat komentar-komentar awam yang kurang bijaksana dalam menyikapi kecelakaan ini. Sebelumnya saya turut berduka cita sedalam-dalamnya bagi seluruh keluarga korban dalam kecelakaan ini.

Kecelakaan yang terjadi pada pukul 13.15 hari Minggu 7 April 2013 tersebut terjadi di Tol Purbaleunyi (Kopo) KM 135 Bandung. Kecelakaan tersebut terjadi karena sebuah Nissan Juke menyebrang ke arah berlawanan menabrak sebuah Daihatsu Xenia. Dalam kecelakaan tersebut Daihatsu Xenia yang menjadi korban tabrakan maut tersebut mengalami kerusakan yang amat parah dibandingkan mobil Nissan Juke yang menabrak, mengapa bisa terjadi?

Sebelumnya mari kita lihat gambar Daihatsu Xenia terlebih dahulu. Daihatsu Xenia yang ditabrak memiliki kerusakan yang bisa dibilang hampir tak bersisa pada bagian kanan dan depan mulai dari atap hingga pintu-pintu mobil yang nyaris tidak tersisa. Lantas ada apa dengan sisi keamanan mobil ini? Apakah mobil ini benar-benar sangat tidak aman dan tidak layak? Yap, pasti hal tersebut yang menjadi banyak komentar dan stereotype orang-orang yang kurang paham mengenai permobilan dan kronologi terjadinya kecelakaan.

Ok, apa benar mobil-mobil di Indonesia kurang aman? Pastinya jika dibandingkan dengan mobil-mobil Eropa yang memiliki standar keamanan tinggi pasti mobil Indonesia kalah telak. Tetapi sebenarnya jika melihat kasus-kasus kecelakaan yang ada di Jakarta mulai dari Avanza terbakar dan Nissan Juke terbakar lantaran menabrak dengan kecepatan 120 km/jam sebenarnya hal tersebut sangat logis sekali. Coba simak video dibawah ini?

Video tersebut ialah video yang menunjukan bagaimana mobil anda jika ditabrakan kepada sebuah dinding yang diam dengan sebuah mobil sedan kelas menengah dengan kecepatan 120 Km/jam. Seram? Pastinya sangat menyeramkan dan sudah dapat dipastikan pengemudi kendaraan akan tewas seketika.

Bagaimana dengan crash test Euro NCAP? Euro NCAP memang seringkali menjadi acuan seseorang dalam memilih kendaraan karena mempertimbangkan faktor safety. Tetapi tahukah anda bahwa crash test Euro NCAP dilakukan dengan kecepatan 64 km/jam saja (40Mph)? Bagaimana jika kecepatan tersebut dikalikan menjadi 2 kali lipatnya dari 60 km/jam menjadi 120 km/jam? Video diatas adalah jawabannya.

Sekuat-kuatnya mobil pasti tidak akan mampu berkutik ketika ditabrakan dalam kecepatan tinggi, ingat sebesar dan seaman apapun tetap saja akan hancur berkeping-keping. Apalagi kecelakaan yang terjadi antara Nissan Juke vs Daihatsu Xenia ini merupakan kecelakaan frontal crash yang keduanya sama-sama dalam kecepaan tinggi lawan arah. Sehingga dapat dipastikan gaya tabrakan keduanya lebih dari kecelakaan 120 km/jam.

Dibawah ini saya berikan contoh bagaimana hasil kerusakan antara crash test Toyota Yaris sedan (Vios) menurut IIHS dengan sebuah tembok dan Toyota Camry yang masing-masing memiliki kecepatan 40 Mph (64km/h)

Luar biasa bukan perbedaannya? Itulah bedanya antara crash test dengan objek diam dan objek bergerak. Jika pengemudi Vios menghadapi sebuah objek tidak bergerak mungkin sang pengemudi masih selamat, namun jika menabrak mobil yang berlawanan arah, dari video yang ditunjukan oleh IIHS tentunya sudah tidak ada harapan bagi pengguna Toyota Vios.

Misalkan begini, Jika Xenia berjalan dengan kecepatan 100 km/jam dan Nissan Juke dari lawan arah dengan kecepatan 100 km/jam. Maka tentunya gaya tabrakan yang terjadi lebih dari 100 km/jam melawan tembok diam bukan? Mungkin gaya yang diberikan bisa menyamai gaya tabrakan sebuah mobil yang menabrak objek diam dalam kecepatan 160 km/jam. Oke, saya bukan ahli fisika untuk menghitung kedua gaya tersebut. Namun dibawah ini saya berikan contoh bagaimana kerusakan ketika sebuah mobil menabrak sebuah dinding diam dalam kecepatan 190 km/jam

Video tersebut ialah sebuah crash test video yang dilakukan team fifth gear kepada Ford Focus generasi pertama yang memiliki nilai 4 bintang Crash Test Euro NCAP. Namun ketika menabrak tembok pada kecepatan 190 km/jam, mobil tersebut nyaris tak bersisa bentuknya, padahal Ford Focus memiliki 4 bintang.

Jadi apapun mobilnya, mobil aman maupun tidak aman pastinya mengalami kerusakan parah ketika mengalami tabrakan melebihi kecepatan 64 km/jam, segala fitur keselamatan maupun konstruksi mobil tetap saja tidak akan berdaya, apalagi jika menabrak mobil lawan arah.

Lalu bagaimana dengan kecelakaan Nissan Juke vs Xenia di tol Purbaleunyi? Mengapa Nissan Juke tidak memiliki kerusakan yang terlampau parah seperti yang terjadi pada Xenia. Mungkin kesaksian salah satu kaskuser yang menyaksikan secara langsung kejadian tersebut bisa menjelaskannya.

saya adalah salah satu saksi yang melihat kejadian ini secara life
kronologisnya

sekitar jam 1230 siang , saya menyetir dari arah pasteur menuju cileunyi. dengan menggunakan avanza silver D13XX GY (pengemudi juke pasti ingat mobil ini)_

kemudian sebelum pintu tol buah batu arah cileunyi ( kurang lebih di KM 140 an ) saya sedang di jalur kanan ( lajur 3 ) dengan kecepatan 120 km per jam.
kemudian dari kiri ada nissan juke berusaha mentake over mobil saya dari lajur 2 ke lajur 3 ( karena di lajur 2 terdapat mobil avanza ) .

seteah itu, nissan juke ada di depan mobil saya lalu kemudian nissan juke mengalami pecah ban, dan oleng ke kekanan dan menabrak separator jalan tol , kemudian pengemudi juke berusaha membanting kekiri, namun yang terjadi mobil kemudian berputar secara horizontal dan menabrak kembali separator , kemudian berputar secara vertikal namun karena separator telah habis ( biasanya ini tempat mobil jasa marga memuutar kendaraan) kemudian juke loncat ke arah seberang jalan tol dan menimpa xenia hitam dan berakhir dirumput..

dari arah space spearator,saya lihat avanzanya atapnya hilang dan pengemudi dan istrinya daam keadaan tak sadar .

setelah saya sampai dicileunyi, saya kemudian melapor ke petugas tol cileunyi

mohon ditaruh di page one

ini kejadian nyata, dan saya siap mempertanggung jawabkannya.
turut berduka cita untuk keluarga korban

Entah kebenaran yang disampaikan salah satu kaskuser bisa dipertanggung-jawabkan atau tidak. Namun kesaksiannya jika benar menguatkan sebuah teori ilustrasi yang saya perkirakan dala kecelakaan ini pada gambar berikut.

Jika Nissan Juke terbang dan menimpa bagian atas Daihatsu Xenia, sudah pasti Daihatsu Xenia akan hancur lebur bagian atapnya, hal tersebut dapat terlihat dari gambar kecelakaan sebagai berikut.

gambar dari detik.com
(gambar dari detik.com)

Bagian atap Xenia hancur lebur, sedangkan bagian sasis dari depan dan belakang masih terlihat baik. Ini bisa terlihat dari posisi roda depan yang tidak bergeser dari tempat yang semestinya. Ini menandakan frontal crash yang terjadi antara kedua mobil tersebut terjadi pada bagian atap Daihatsu Xenia dan bagian bawah Nissan Juke.

Atap mobil merupakan bagian paling lemah dari struktur bodi mobil karena adanya kaca. Sebutkan saja mobil-mobil yang memiliki atap paling kuat dan tebal sekalipun seperti Land Cruiser, Pajero maupun Hummer. Pasti tidak akan mampu menahan benturan dari sebuah Nissan Juke yang memiliki bobot lebih dari 1.3 Ton. Secara fisika daya yang diterima oleh Daihatsu Xenia dari Nissan Juke terbang tidak hanya gaya tabrakan horizontal, namun ada gaya jatuh bebas vertikal sebuah Nissan Juke dengan bobot 1.3 Ton. Apa yang terjadi? tentunya mobil apapun pasti akan hancur.

Lalu mengapa Nissan Juke tampak baik-baik saja dan penumpangnya selamat? Mungkin karena hantaman yang diterima Nissan Juke mengenai bagian bawah mobil. Bagian bawah yang terdiri dari sasis dan kaki-kaki memiliki struktur paling kuat berbanding terbalik dengan atap, karena disanalah terletak besi-besi baja yang menjadi tulang dari kekuatan mobil. Kerusakan Nissan Juke dapat dilihat pada gambar paling atas.

Jadi yang dapat disimpulkan menurut saya dalam kecelakaan ini adalah bagimana kecelakaan tersebut terjadi, bukan karena jeleknya kualitas mobil yang digunakan. Toh apa yang bisa diharapkan dari safety kendaraan MPV kurang dari 200 jutaan di Indonesia? Yang harga diatas 1 milyar pun belum tentu bisa menjamin keselamatan penumpangnya jika terjadi kecelakaan yang sama seperti yang dialami Nissan Juke vs Daihatsu Xenia ini.

Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan dalam analisa awam seorang penggiat otomotif Nasional. Mohon ditanggapi dengan bijaksana, karena semua kemungkinan bisa terjadi dalam kecelakaan. Tidak harus karena apa mobil yang dibawa, namun bagaimana cara kita membawa kendaraan. Secanggih-canggihnya mobil, se-aman-amannya sebuah mobil tentunya akan lebih aman jika kita membawanya dengan safety driving dan mengikuti rambu-rambu yang ada. Semoga korban diterima disisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan.

Mohon dikomentari untuk masukannya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 4 jam lalu

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: