Metro

Fendi Felix

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

Menggembara dengan waktu

Rindu KRL yang Ramah untuk MS

REP | 02 May 2013 | 11:41 Dibaca: 1081   0

Semenjak menikah, saya bersama istri langsung hijrah ke “pinggiran kota” Jakarta yaitu kota yang kami anggap nyaman dengan suasana seperti di kampung halaman. Setiap hari, berangkat dan pulang kerja selalu naik KRL. Waktu itu, 2009, masih ada peluang bagi kami untuk naik yang sekali angkut langsung sampe tujuan dekat kantor, walau saya tidak menggunakan kereta jenis itu tapi saya cukup senang istri bisa menikmati perjalanan ditengah kesakitannya karena menderita penyakit autoimun yaitu Multiple Sclerosis/MS (http://en.wikipedia.org/wiki/Multiple_sclerosis). Penyakit jenis ini tidak menular. Ketika sedang hamil anak kami, dia bisa melalui berbagai cobaan walau hanya menggunakan KRL ke kantor. Sampai anak kami lahir pun semua baik-baik saja.

Istri memang tampak biasa seperti yang diceritakan oleh mantan teman kantornya melalui blog (http://dieta.web.id/dia-wanita-yang-hebat-di-mata-saya/ ). Bagiku pun tampak seperti biasa, tetapi dari pemikiran, perjuangan dan impian dia yang begitu hebat maka dia sebenarnya wanita yang hebat. Dari tampilan luar tidak terlihat sakit tapi sebenarnya dia merasakan nyeri yang berpindah-pindah disekujur tubuhnya. Ditambah lagi dengan keterbatasan mata dengan buta sebelah. Bahkan kalau lagi nyeri sekali naik turun tangga terkadang harus diseret hingga harus mengalah ke penumpang lagi terburu-buru. Bagi yang baru kenal, mungkin tak kan pernah untuk mengalah memberikan ruang, seperti halnya penumpang kereta yang tak saling mengenal.

Tapi begitu muncul commuterline, semua langsung berubah walau secara konsep commuterline itu cukup bagus tapi pelaksanaan teknisnya masih amburadul. KRL sering penuhnya terutama di peak hour pagi dan sore tak heran jika sering adanya “ganjeler” hingga saling berdesakan. Walau ada gerbong wanita dan kereta khusus wanita. Tapi itu tidak terlalu membantu terutama untuk istri saya yang menderita Multiple Schlerosis selama hampir sepuluh tahun yang pada akhirnya karena adanya kemajuan dunia kedokteran MS memiliki turunan yaitu Devic’s disease atau Devic’s syndrome (http://en.wikipedia.org/wiki/Neuromyelitis_optica) sama persis gejalanya dengan istri.

Tipikal penumpang gerbong wanita, sangat egois dan berani untuk melawan. Tak heran jika banyak wanita terutama hamil besar (terlihat hamilnya) dan ibu-ibu yang membawa anak kecil untuk lebih memilih ke gerbong campuran dengan alasan gerbong campuran lebih memanusiawi terutama bagi bumil. Tak jauh dengan gerbong wanita, Kereta Khusus Wanita memiliki persamaan tipikal penumpang.  Bedanya karena rangkaiannya panjang jadi masih banyak ruang untuk berbagi. Tetapi waktu operasional yang membuat kereta ini jadi kurang efektif. Yang peak hour pagi kurang pagi yang peak hour sore kurang sore. Alangkah baiknya jika disesuaikan dengan jadwal pergi dan pulang kantor untuk wanita pegawai negeri (umumnya masuk kerja jam 07.30 WIB, pulangnya jam 16.00 WIB) maupun wanita pegawai swasta (umumnya masuk kerja jam 09.30 WIB, pulangnya jam 17.30 WIB).

Saya pernah diberitahu oleh seorang kawan yang bekerja di Eropa, bagi mereka yang menderita suatu penyakit itu memakai tanda seperti pita di lengan yang nantinya akan diprioritaskan di angkutan umum. Namun bagaimana dengan transportasi di Jabodetabek. Melihat terlalu berjubelnya penumpang, kurasa hal seperti itu tak bakal berlaku di commuterline. Untuk memberikan tempat duduk prioritas ke yang berhak saja masih kurang kepeduliannya ditambah lagi dengan pemeriksaan karcis oleh “Sentinel” di saat pas peak hour sering diabaikan.

Setelah lulus dari S2 UI, istri mulai beraktivitas kembali ke kantor sejak Agustus 2012 dengan menggunakan commuterline, baru sebulanan menggunakan KRL kondisi istri langsung ngedrop hingga sering istirahat di rumah dan harus rawat jalan. Puncaknya pada 1 April 2013, istri harus opname ke RSCM karena kondisi makin memburuk. Sudah lebih dari sebulan ini istri harus istirahat di rumah karena penyakitnya kembali menyerang. Diserangan ketiga ini (pernah dengan kondisi yang sama 2003 dan 2005) mulai membuat istri  harus mengkonsumsi obat metil (obat “dewa” penghilang nyeri) sejak September 2012 sampai saat ini.  Pagi ini (2 Mei 2013) kembali istri harus Lumbar Puncture (http://en.wikipedia.org/wiki/Lumbar_puncture) karena oleh Dokter Riwanti (dokter kepercaaan istri) diduga adanya infeksi di cairan otak atau di tulang belakang sehingga kondisinya makin memburuk.

Saya prihatin dengan kondisi transportasi umum khususnya commuterline yang masih kurang ramah dengan “orang sakit yang tidak terlihat sakit”. Memang penyakit MS (Devic) atau autoimun itu jumlah penderita di Indonesia tak banyak, bahkan bisa dihitung dengan jari. Tapi bagaimana dengan penderita penyakit lain yang lebih buruk dari MS yang penderitanya tidak terlihat sakit namun penyakitnya menular.

Salam,

fendi

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta